Tulisan lain


ARTIKEL WISATA :

Wisata Alam di Lore

(Khasanah potensi wisata unik di Tanah Lore Kab. Poso)

Oleh : Ir. Anggodo, M.M.

Menggairahkan Kembali Pariwisata di Poso

Mendengar kata Poso, mungkin pembaca sudah sering mendengarnya dengan bayangan suatu kota yang pernah mengalami konflik berkepanjangan yang masih menimbulkan traumatik mendalam di hati masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya masyarakat Poso. Kini kondisi Poso sudah mulai pulih dan keamanan telah kondusif.

Sebelum kerusuhan meledak di Poso bulan Desember 1998, pariwisata di Poso menyumbang + 45% dari total penerimaan PAD Poso. Untuk merangsang kembali denyut pariwisata di Poso maka Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah dan Kabupaten Poso baru-baru ini berinisiatif menggelar kembali Festival Budaya Poso yang berlangsung mulai tanggal 13 hingga 15 November 2007, di mana sejak Tahun 1996 event ini akibat konflik yang lalu sudah tidak pernah diagendakan lagi oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Poso. Kesuksesan event ini menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Poso kini sudah aman untuk dikunjungi oleh wisatawan.

Pesona Lore Lindu

Danau Poso bukanlah satu-satunya obyek wisata andalan di Sulawesi Tengah. Masih banyak daya tarik wisata alam lain yang bisa ditawarkan selain keindahan Danau Poso bahkan obyek wisata itu berdekatan dengan tempat diselenggarakannya Festival Budaya tersebut yaitu Taman Nasional Lore Lindu (TN-LL) yang tak kalah indah, unik dan menyimpan berjuta pesona. TN-LL merupakan hutan warisan alam dunia yang sangat kaya dengan keanekaragaman flora dan faunanya. Sudah menjadi pemandangan biasa bila kita melihat sejumlah turis dan peneliti mancanegara mengunjungi kawasan ini. Tujuan ke TN-LL selain untuk berekreasi mendaki gunung, memanjat tebing sambil menikmati panorama alamnya yang indah dan sejuk, juga menjadi obyek penelitian para peneliti dalam dan luar negeri. Dengan ditunjuknya TN-LL sebagai cagar biosfer dunia oleh UNESCO seharusnya bisa dijadikan peluang untuk mempromosikan pariwisata di Sulawesi Tengah.

Kawasan TN-LL secara administratif berada di Kabupaten Donggala (Kecamatan Kulawi, Sigibiromaru, Palolo dan Pipikoro) dan Poso (Kecamatan Lore Utara, Lore Tengah, Lore Timur, Lore Piore, Lore Barat dan Lore Selatan) Provinsi Sulawesi Tengah. Kawasan ini telah ditetapkan sejak Tahun 1993 yang merupakan gabungan Suaka Alam Lore Kalamata dan Hutan Lindung dan Taman Rekreasi Danau Lindu. Secara biogeografis kawasan ini merupakan daerah peralihan antara Zona Asia dan Zona Australia atau disebut Garis Wallace (Wallace Line) yang membentang dari Taman Nasional Nani Wartabone di Bolaang Mongondou hingga Donggala dan Poso melintasi hutan TNLL dan menembus sampai ke hutan-hutan tropis di Sulawesi Tenggara.

Adapun potensi flora dominan di kawasan TN-LL yaitu pohon wanga (Figafeta filaris sp.) dan leda (Eucalyptus deglupta). Sementara potensi fauna yang dapat dijumpai di kawasan tersebut, di antaranya anoa (Anoa quarlesi, Anoa depressicornis), babi rusa (Babyrousa babyrusa), monyet hitam sulawesi (Macaca tonkeana), kuskus (Phalanger ursinus, Phalanger celebencis), tangkasi (Tarsius spectrum) dan rusa (Cervus timorensis). Jenis burung endemik yang ditemukan antara lain maleo (Macrocephalon maleo), rangkong (Buceros rhinoceros, nuri (Tanygnatus sumatrana), kakatua (Cacatua sulphurea), dan Aceros cassidix) dan pecuk ular (Anhinga rufa). Juga hidup bermacam-macam reptil, ikan dan serangga.

Obyek wisata alam di Lore

Obyek wisata andalan yang tersebar di sepanjang Tanah Lore yaitu obyek wisata bird watching di Padeha, air terjun di Wuasa dan Kolori, air panas di Watumaeta dan Lengkeka, camping ground di Wuasa, arung jeram di Sungai Lariang di Gintu, satwa liar rusa di Torire dan anoa di padang Lelio, Watumaeta, Wuasa serta satwa tarsius di Lengkeka dan juga situs batuan-batuan megalith yang tersebar di lembah Bada dan Besoa. Di samping itu dapat ditawarkan pula wisata budaya etnik lokal di lembah Napu dan Bada yang unik dan kaya dengan adat istiadat.

Melihat potensi alamnya, kawasan ini sangat menjanjikan dan bisa memuaskan hasrat para wisatawan untuk berkunjung melakukan wisata minat khusus dan selalu ada keinginan untuk berkunjung kembali ke kawasan nan indah ini. Tanah Lore yang cantik itu saat ini masih dikatakan benar-benar masih perawan. Untuk perjalanan darat dapat ditempuh sekitar 3,5 jam dari Palu atau sekitar 1,5 jam dari Poso.

Strategi promosi wisata alam di Lore

Selama ini para pengunjung baik peneliti maupun wisatawan asing dengan tujuan berkunjung ke kawasan konservasi biasanya didampingi oleh guide setempat datang berkunjung ke Lore melalui pintu masuk dari Manado, Gorontalo, Makassar atau Toraja langsung ke Poso tanpa melalui Palu. Hal ini menyebabkan pihak kantor Balai sulit memantau kunjungan peneliti dan wisatawan di Lore. Dengan keberadaan kantor Bidang Wilayah III yang berkedudukan di Poso diharapkan kedatangan para pengunjung dapat termonitor oleh petugas Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu.

Dari pantauan dan wawancara dengan para wisatawan asing, didapatkan penjelasan bahwa sebagian besar mereka yang datang berkunjung ke Lore sekedar mampir setelah mengunjungi Tana Toraja atau berwisata ke Bunaken. Ada keinginan untuk menciptakan peluang melalui pariwisata sekaligus mengemas suatu paket wisata alam tanpa mengancam dan menyebabkan kerusakan hutan di wilayah Lore. Strategi promosi wisata alam juga harus disusun dengan rapi, baik promosi ke dalam maupun ke luar negeri, termasuk identifikasi segmen pasar yang potensial di dalam dan luar negeri. Obyek dan daya tarik wisata alam yang merupakan keanekaragaman hayati beserta fenomena ekosistemnya merupakan modal utama bagi pengembangan industri pariwisata alam. Maka, pemanfaatan dan pengembangan serta kelestariannya di Taman Nasional akan memberikan kontribusi bagi kemajuan industri pariwisata alam.

Selama ini Taman Nasional terus mempromosikan potensi wisata yang ada kepada calon wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Promosi dilakukan dengan penyebaran leaflet, brosur dan website dan mengikuti pameran.

Tentunya tidak mudah untuk mengemas suatu paket obyek wisata alam karena tidak sama dengan mengemas obyek wisata rekreasi biasa. Sebab itulah harus diperhatikan obyek wisata mana yang layak jual atau punya potensi dan dapat dijadikan paket wisata termasuk fasilitas dan prasarananya. Apa yang unik dari obyek wisata tersebut atau daya tarik pesona alamnya. Siapa dan di mana yang akan dijadikan target concumers-nya. Bagaimana cara memasarkan dan membuat promosinya. Yang harus dipersiapkan juga antara lain adalah siapa rekanan biro perjalanan wisata yang potensial dan penginapan-penginapan yang mampu untuk mendatangkan para wisman dan wisdom. Dari pihak Taman Nasional perlu disiapkan petugas-petugas yang semula melulu mengawasi dan mengamankan hutan (Polhut) ke arah petugas pelayanan jasa kepariwisataan. Sementara itu, berkaitan dengan minimnya sarana-prasarana pariwisata yang sudah tersedia saat ini, perlu dilakukan pembenahan dan penambahan terhadap gapura pintu masuk/keluar kawasan, papan petunjuk jalan, shelter-shelter, home stay dan visitor center yang sudah ada serta penambahan menara pengamatan satwa/burung.

Diperlukan juga kerja sama dengan komponen-komponen pariwisata seperti travel agent, media massa dan lain sebagainya. Dengan harapan peluang pasar wisata semakin terbuka. Untuk memasarkan objek dan daya tarik wisata alam di Lore diperlukan upaya promosi sejak dari kedatangan turis asing ke Indonesia, untuk itu perlu bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Association of Indonesian Tour and Travel Agency/ASITA), Biro-biro perjalanan wisata di Jakarta, Denpasar dan kota-kota besar lainnya, kota terdekat seperti Manado dan Toraja, sehingga turis asing tidak hanya datang berkunjung ke Taman Nasional Bunaken dan Tana Toraja tetapi menyempatkan juga untuk datang ke Lore (Penulis adalah Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wil. III Poso Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu).


Referensi

Balai Taman Nasional Lore Lindu. 2004. Buku Informasi Taman Nasional Lore Lindu. Proyek Pemantapan Pengelolaan TN-LL T.A. 2004. Palu.

Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu. 2006. Taman Nasional Lore Lindu. (http://www.lore-lindu.info).

REPORTASE

Festival Danau Poso

(kepuasan bagi pemburu kenikmatan wisata)

Oleh :

Ir. Anggodo, M.M. (Kabid Pengelolaan TN Wil. III Poso, 2007-2009)

Pesona Danau Poso

Pagi yang sejuk di awal bulan November lalu, Danau Poso di Tentena “kota wisata” ibukota Kecamatan Pamona Utara Kabupaten Poso menawarkan pesona alam nan cantik yang merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Hamparan airnya yang biru yang jernih dengan pasirnya yang berwarna kuning keemasan dengan panorama alam di sekeliling danau yang sangat indah dikelilingi oleh perbukitan dan hutan di sekitarnya yang berdiri kokoh bagai memagari danau. Berdiri di pinggiran danau bagaikan berada di surga dunia dan seakan terlupa kepenatan hidup sehari-hari berganti dengan kenikmatan ragawi dan batiniah sekaligus mengagumi kebesaran Tuhan Pencipta Alam Semesta.

Luas danau ± 32.000 Ha yang membentang dari utara ke selatan sepanjang 32 kilometer dengan lebar 16 kilometer dan kedalaman mencapai 510 meter dan danau ini berada pada ketinggian ± 657 meter dpl.

Danau Poso dengan letaknya yang strategis pada perlintasan jalan Trans Sulawesi antara Palu, Poso, Toraja, Gorontalo dan Manado membuat Danau Poso selalu disinggahi wisatawan lokal maupun mancanegara. Danau ini dapat dicapai dengan perjalanan darat 57 kilometer dari kota Poso atau 283 kilometer dari kota Palu.

Bagi pembaca yang akan berkunjung ke Sulawesi, sempatkanlah untuk berkunjung ke Poso menikmati keindahan alam Danau Poso di Tentena, dan jangan lupa untuk mampir ke obyek-obyek wisata lain yang menawarkan pesona alam unik dan menarik di sekitar Danau Poso yang tentunya dijamin dapat memberikan kepuasan bagi para pemburu kenikmatan wisata.

Festival Tahunan di Danau Poso

Festival Budaya Poso ke- X telah berlangsung tanggal 13 hingga 15 November 2007 yang lalu. Festival ini merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan sejak Tahun 1989 untuk pertama kalinya oleh Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah dan telah berlangsung berturut-turut sebanyak sembilan kali sejak Tahun 1989 sampai dengan 1997. Sejak krisis moneter Tahun 1997 dan berlanjut dengan konflik berkepanjangan di Poso membuat event tahunan ini terhenti selama 9 tahun.

Festival Danau Poso (FDP) kali ini mengangkat tema sentral “Melalui FDP kita rajut tali persaudaraan dengan nilai-nilai budaya dan pariwisata yang berkearifan lokal membangun Sulawesi Tengah dan menyongsong Visit Indonesian Year 2008”. Festival diikuti oleh delegasi budaya dari 10 kabupaten/kota di Sulawesi Tengah, serta duta budaya provinsi tetangga seperti Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara.

Event yang menghabiskan anggaran Rp. 600 juta dari APBD perubahan 2007 ini menampilkan belasan pagelaran di antaranya busana daerah, pergelaran upacara adat tradisi, musik tradisional dan lagu daerah serta tarian daerah. Selain itu, memilih putera-puteri duta wisata Sulawesi Tengah, pameran produk dan soevenir, penyajian makanan khas daerah, bermacam-macam perlombaan perahu hias, tarik tambang di atas perahu, renang, dayung, volley pasir, lari marathon 10 K/5 K, permainan rakyat adu gasing dan egrang, eksibisi hiburan dero dan musik bambu serta dialog kepariwisataan.

Referensi

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah. 2007. Danau Poso. http://www.disparbud-sulteng.go.id (diakses 20-12-2007).

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah. 2007. Festival Danau Poso X Tahun 2007. Leaflet. Dispar Prov. Sulteng. Palu.

Fritzinfo. 2008. Festival Danau Poso Bukti Keamanan Membaik. http://www.my-indonesia.info (diakses 20-12-2007).

Danau Poso di Tentena

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s